Pasar Potulando Vs Pasar Modern di Kota Ende


Oleh ; Jhon Alfred, Feliks B. Fia

Kehadiran pasar modern di kota Ende (Hero Swalayan, Smart Swalayan, Shine Smart, Barata.) dirasakan oleh banyak pihak berdampak terhadap keberadaan pasar tradisional. Di satu sisi, pasar modern dikelola secara profesional dengan fasilitas serba lengkap yang memberikan banyak kenyamanan membuat sebagian orang enggan untuk berbelanja ke pasar tradisional. Banyak pelanggan yang meninggalkan pasar tradisional, karena kondisi pasar yang becek dan bau, malas tawar menawar, faktor keamanan, kebersihan dan tempat pembuangan sampah yang kurang terpelihara, kurangnya lahan parkir, dan buruknya sirkulasi udara, penuh sesak, dan sejumlah alasan lainnya. Padahal pasar tradisional juga masih memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki pasar modern. Diantaranya adalah masih adanya kontak sosial saat tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Tidak seperti pasar modern yang memaksa konsumen untuk mematuhi harga yang sudah dipatok. Keberadaan pasar, khususnya yang tradisional, merupakan salah satu indikator paling nyata kegiatan ekonomi masyarakat di suatu wilayah. Bagaimanapun juga pasar tradisional lebih menggambarkan denyut nadi perekonomian rakyat kebanyakan. Di sana, masih banyak orang yang menggantungkan hidupnya, dari mulai para pedagang kecil, kuli panggul, pedagang asongan, hingga tukang ojek.

Pasar Potulando atau yang lebih dikenal dengan pasar Senggol merupakan salah satu pasar, dari 3 Pasar  yang terdapat di kota Ende. Pasar Potulando ini pada mulanya berasal dari  sebuah pasar tradisional, yang kemudian berkembang seiring dengan semakin kompleksnya kebutuhan masyarakat setempat. Tradisional yang dimaksud di sini yaitu masih adanya tradisi tawar menawar, bisa saling tegur antara pelaku kegiatan, konsumen maupun diberitahu oleh pedagang kalau ada barang baru (ada sentuhan humanis) antara penjual dan pembeli.

Pasar Potulando didirikan pada tahun 1978, status kepemilikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ende dengan nomor sertifikat No. P.24. Luas lahan 4166 m², luas bangunan 1652.84 m² (Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Ende).
Pasar ini menjual berbagai kebutuhan masyarakat sehari – hari, jam pasar ramai pada pukul 500 Sore - 8.3000 Malam. komoditi yang paling diminati pengunjung di pasar ini adalah komoditi wet market (pasar basah) diantaranya daging ayam, ikan, dan juga sayur – sayuran. Penjual kebanyakan berasal dari penduduk sekitar lokasi Pasar.

Fasilitas Fisik Yang Ada
a)      Fasilitas utama
·         Los – los
Merupakan tempat berjualan yang berupa sebuah bangunan berpetak – petak yang terbuka, beratap dan berlantai, yang terdiri dari beberapa kelompok terpisah menurut jenis dagangan atau komoditi. Satu petak biasanya di gunakan oleh satu atau dua orang pedagang.
Bangunan permanen, sebagian dalam keadaan baik dan terpakai sedangkan sebagian lagi dalam keadaan tidak terawat dan tidak digunakan.

·         Kios – kios dan Lapak (plataran terbuka)
Kios swadaya merupakan bangunan kios individu yang dibangun oleh masyarakat pada petak – petak lokasi yang telah ditentukan oleh PD pasar, sedangkan kios pemerintah merupakan bangunan individual maupun kelompok (los) yang telah disiapkan oleh pemerintah selanjutnya di sewakan kepada pedagang – pedagang.
b)            Fasilitas penunjang
·         Pelataran parkir
dalam keadaan baik namun kurang terawat, tidak ada pemisahan antara parkir kendaraan roda dua dan roda empat. Penjual juga masih memanfaatkan pelataran parkir sebagai tempat berjualan.

Tampak Bangunan
Tampak bangunan Pasar Potulando untuk saat ini tidak mencitrakan bahwa bangunan tersebut merupakan sebuah Pasar, ini disebabkan karena tampak bangunan Pasar Potulando yang terlihat lebih mirip sebuah menara Pos Jaga. Sehingga apabila dilihat secara sekilas, bagi orang asing/ baru tidak akan tahu jika bangunan tersebut sebenarnya adalah sebuah Pasar, selain itu tampak bangunan Pasar Potulando juga  sudah terlihat sangat usang karena kurangnya perhatian dan perawatan dari pihak yang berwenang.
Ruangan Dalam Pasar
Tingkat kenyamanan dirasa kurang begitu baik, hal ini disebabkan karena apabila kita berada di dalam ruangan pasar Potulando , udara di dalam pasar sangat panas dan juga sangat gelap jika tidak ada penerangan dari lampu penerang. Ini disebabkan karena ruangan pasar yang sangat tertutup, sehingga udara maupun cahaya dari luar ruangan akan sangat sulit untuk masuk ke dalam ruangan pasar.

Sirkulasi
Pada lokasi pasar Potulando sudah ada pembagian yang jelas antara sirkulasi manusia dan sirkulasi kendaraan, hal ini terlihat dengan adanya tempat parkir di bagian depan tapak. Namun dirasakan kurang memiliki tingkat kenyamanan yang begitu baik karena sangat minim dan kurang memenuhi standart.

Dengan kondisi sarana dan prasarana yang ada pada pasar Potulando saat ini, sangatlah jauh dibandingkan dengan pasar Modern (Hero Swalayan, Smart Swalayan, Shine Smart, Barata, dll) yang mana tempat-tempat tersebut menjanjikan tempat belanja yang representatif, nyaman, dan higenis bahkan dengan harga yang tidak kalah menarik. Pada sisi lain keberadaan pasar Potulando yang terkesan kumuh, dagangan yang kurang higienis, rendahnya kesadaran pedagang untuk mengembangkan usahanya. Keadaan ini tidak dapat mendukung kapasitas dan kualitas pelayanan yang optimal, bahkan dalam beberapa hal cenderung menimbulkan hal yang negatif, baik terhadap sistem sirkulasi, penzoningan maupun penampilan ruang kawasan.

Seiring dengan meningkatnya persaingan di bisnis ritel dan konsekuensi dari gaya hidup modern yang berkembang di masyarakat kota Ende, ada beberapa hal yang harus menjadi landasan bagi pembuat kebijakan untuk menjaga kelangsungan hidup pasar tradisional (Pasar Potulando/Senggol). Untuk itu penulis merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut : Pertama, memperbaiki sarana dan prasarana pasar tradisional. Masalah keterbatasan dana seyogianya dapat diatasi dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta. Konsep bangunan pasar pun ketika renovasi harus diperhatikan sehingga permasalahan seperti konsep bangunan yang tidak sesuai dengan keinginan penjual dan pembeli dan kurangnya sirkulasi udara tidak terulang kembali. Kedua, melakukan pembenahan total pada manajemen pasar.

Untuk menghindari tenggelamnya pasar tradisional (Pasar Potulando/Senggol) akibat kehadiran pasar modern (Hero Swalayan, Smart Swalayan, Shine Smart, Barata.) diperlukan pendekatan yang terpadu, yakni dukungan perbaikan infrastruktur, penguatan manajemen dan modal pedagang di pasar  tradisional…………………..!!!

Daftar Pustaka
Pasar Tradisional di Era Persaingan Global, Lembaga Penelitian Smeru, No.22: Apr-Jun/2007.
Kompas (2006) ’Jangan Biarkan Pasar Bersaing dengan Hipermarket’.
Feliks Beni Fia, Perencanaan dan Perancangan Pasar Potulando sebagai Pasar Tradisional Bergaya Modern di Kota Ende,Tugas Akhir Prodi Arsitektur Universitas Flores, 2010.

0 komentar:

Posting Komentar

Leave a Reply

Name (required)

Email Address (required)

Website