Rona Kritik dalam Arsitektur

0 komentar


Rona atau situasi dimana kritik biasanya berlangsung. Secara garis besar dapat diidentifikasi dalam beberapa kondisi, antara lain : Self (diri), Authority (yang berwenang), Expert (pakar), Peer (kelompok) dan Layman (orang awam).

1.  Kritik Diri (Self Criticism)
• Kritik diri merupakan situasi dimana perancang atau pembuat keputusan mengkritisi dirinya sendiri dalam proses perancangan. Kritik model ini memusatkan perhatian pada pengkayaan pikiran diri. Dengan ini diharapkan kritikus dapat lebih banyak mempelajari dan mengembangkan berbagai fenomena yang muncul dalam situasi dan hukum-hukum perancangan.
• Kritik diri merupakan kerja yang otoritasnya merupakan komposisi dari beberapa kegiatan :
a. Pengayaan/Penyaringan (Labour of Shifting)
b. Penggabungan (Labour of Combining)
c. Penyusunan (Labour of Constructing)
d. Penghapusan (Labour of Expunging)
e. Pembetulan  Labour of Correcting)
f. Pengujian (Labour of Testing)

2.  Kritik Yang Berwenang (The Authoritative Setting)
 • Sumber kritik otoritas adalah kekuatan yang melekat dalam posisi social. Hubungan secara hirarkis individu dengan pembuat keputusan dan penentu kebijakan.
• Dalam kasus yang sama adalah dasar-dasar kritik yang berlangsung dalam situasi pendidikan studio perancangan. Sekalipun dalam banyak model pendidikan sebagaimana di Beaux Art Guru dipandang sebagai partner dalam proses pembelajaran. Ada juga dalam model pendidikan kontemporer yang masih memandang guru secara structural memiliki kepekaan untuk menyukai individu tertentu sebagai sebuah figure yang semi otoriter.
• Terdapat beberapa kesulitan dalam kritik yang dilontarkan oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas (John Wade, 1976) :
a. Peran juri yang berlaku sebagai pihak yang memiliki otoritas menghakimi tetapi juga memiliki kekauasaan instruksional.
b. Adanya fleksibelitas dalam menetapkan nilai kritik yang dilancarkan- dimana kritikus merespon pada fakta projek yang sedang dipresentasikan.
c. Keputusan dipengaruhi oleh situasi yang beragam yang dihadapi masing-masing pendidikan, keputusan yang dilakukan secara acak terinspirasi dari solusi yang datang berdasarkan pengaruh jaman.
d. Tidak ada kualitas nilai yang secara eksplisit tertuang dalam setiap keputusan.

3.  Kritik  Pakar (Expert Criticism)
 • Kritik pakar dipandang tidak memiliki kekuatan yang spesifik melampaui apa yang dikritiknya. Dampaknya sangat bergantung pada kesan-kesan yang lain yang berkait dengan pengetahuan secara khusus dan kemampuan internalnya.
• Kritik biasanya berupa tulisan popular yang dimuat di media massa. Pakar dalam hal ini biasanya adalah orang-orang jurnalis yang memiliki kepekaan untuk membuat paparan dan pengumpulan fakta-fakta.
• Melalui berbagai perangkat pengalamannya mereka mendemonstrasikan kemampuan pemahamannya tentang isu-isu yang berkaitan dengan desain lingkungan.
• Dua bentuk kritik pakar : Kolom umum dan Berita palsu. Kolom umum biasanya berupa tulisan yang dikarakteristikkan sebagai berita pembentuk opini yang memiliki tendensi pengajuan karakteristik tertentu yang diinginkan. Berita Palsu, menyajikan samaran dari sebuah berita dan upaya advertensi (pengiklanan).
• Adakalanya kritikus pakar juga menuai kritik antara lain, sebagaimana ditulis oleh Ada Louise Huxtable :
Yang terhormat Tuan Kritikus : Artikel anda tentang arsitektur sungguh mengindikasikan
bahwa anda kurang memiliki kepekaan rasa. Arsitektur terlalu penting untuk dibiarkan kepada para kritikus arsitektur.

4.  Kritik Kelompok (Peer Criticism)
Kebanyakan lingkungan masyarakat dan institusi tertentu dalam kritik kelompok (peer criticism) tentang arsitektur adalah juri penghargaan desain. Dalam hal ini arsitek professional mengevaluasi dan memberikan pengetahuan khusus tentang desain yang dibawa oleh para professional. Institusi lain dalam kritik kelompok adalah buku atau artikel yang ditulis oleh para arsitek tentang arsitek-arsitek lain.
Beberapa kriteria kualitas yang biasanya menjadi poin-poin evaluasi dalam kritik kelompok :
a. Bangunan harus memiliki konsep
b. Bangunan harus mencerminkan keteraturan struktur
c. Bangunan harus menghargai dan respek terhadap lingkungan
d. Ruang harus peka terhadap emosi lingkungan
e. Sangat disarankan untuk menggunakan teknologi yang dipersyaratkan
f. Bangunan harus memiliki makna dan ruang yang selalu bisa diingat…..dll.

5.  Kritik Awam (Layman Criticism)
• Awam lebih diarahkan pada pengguna lingkungan fisik yang :
a. Tidak menyadari bahwa lingkungan fisik diciptakan
b. Tidak secara khusus dilatih sebagai desainer dan kritikus.
• Beberapa kategori dasar respon awam dalam memandang arsitektur :
a. Perhatian terhadap Lingkungan
b. Perilaku terhadap lingkungan antara desain dan kebutuhan kondisi lingkungan yang diinginkan
c. Modifikasi terhadap lingkungan :
- Yang tidak disadari.
- Yang disadari (improvement/perbaikan).
- Yang disadari (destruksi/penghancuran).